Thursday, December 11, 2008

who am i?

Mt. Kencana, West Java, Indonesia

Belajar adalah suatu proses yang harus dijalani dalam hidup, malang bagi mereka yang merasa tak pernah belajar. Kelas yang dingin boleh jadi tempat yang enak untuk belajar bagi beberapa orang, tapi tidak bagi kami.
Kelas bagi kami tidak hanya sekedar tembok putih dan papan tulis, kelas adalah alam, itu menurut kami. Aneh memang bagi sebagian orang, tapi guru yang kami inginkan bukan hanya sekedar guru yang hanya terus mendikte, dan mendikte. Kami ingin disadarkan sendiri akan kesalahan kami bukan terus diingatkan oleh guru, sehingga kami sadar bahwa kami hanyalah kecil.
Kami belajar bukan untuk menjadi sombong, tetapi hanya untuk mengetahui siapa diri kami sebenarnya. Mungkin dengan bekal ini kami bisa hidup, dan terus hidup.
Kami belajar untuk masyarakat bukan untuk diri kami sendiri.
Kami mengejar sesuatu yang mungkin klise tapi bukan berarti kami menjadi pribadi yang klise.

Untuk sebuah perjalanan


Mahluk kecil kembalilah.
Dari tiada ke tiada.
Berbahagilah dalam ketiadaanmu.

Soe Hok Gie

My Ride


Kota Lama, Semarang, Indonesia

Monday, December 8, 2008

intan di kegelapan


Lawang Sewu, Semarang, Indonesia

where are you?

Dibalik lembutnya awan itu, adakah engkau disana?
untuk memberikan senyuman
Dibawah tanah sana, adakah engkau disana?
untuk menemaniku
Didinginnya hawa pagi, adakah engkau disana?
untuk memberikan kehangatan
Kemana kakiku melangkah??
Akankah ku temui engkau?
Penuh pertanyaan
Kenapa suara mu tak kudengar lagi
Akankah suara itu menyuruhku lagi untuk bangun di pagi hari
Akankah suara itu akan memarahi lagi??
Kenapa engkau daki jalan yang curam itu?
Kenapa tak kau turun saja untuk menemani kami?
Kenapa kau beri kami kesepian ini?
Miss you dad..

M

M termenung di saat sore datang, kenapa dia hanya terus begini dalam hidupnya. Sepi tetapi tetap diliputi pikiran yang terus bertanya – tanya. Sunyi tetapi tetap diikuti kerasnya suara hati yang terus berteriak. Sebenarnya apa yang kurang dalam hidupnya? Makan dan minum sepertinya belum cukup baginya untuk merasa puas.
Matahari sudah tidak tampak lagi disaat dia memutuskan untuk mati. Ya, dia telah putuskan itu. Pikiran dan permasalahan yang terus mengganggu telah membuatnya ingin mengakhiri hidupnya saja. Pertanyaan di kepalanya itu hanya seperti bius yang membunuhnya perlahan – lahan. Daripada mati perlahan leih baik diakhiri saja hidupnya. Biar cepat, tak perlu ada rasa sakit.
Di dalam pikirannya sudah tidak ada lagi suatu keinginan untuk bertahan, dia sudah terlalu lelah. Kegagalan – kegagalan yang terus melanda, membuatnya jatuh dan layu. Semangat itu hilang dan terhempas jauh.
Mati. Memang itu satu – satunya cara terbaik, disaat dukungan yang dinantikan tak kunjung datang. Apabila mati, pertanyaan – pertanyaan itu mungkin akan hilang, sekali lagi mungkin. Karena tak pernah dia mengerti apa hakekat dari kematian. Bisa saja disaat dia menjadi roh, pikiran dan pertanyaan itu akan terus mengikuti., itu bisa saja. Tetapi keinginannya untuk mati sudah tidak bisa ditolaknya lagi, dia memang harus mati.
Akhirnya diminum juga racun itu. Gelas yang dipakainya seketika jatuh ke lantai, dan dirinya pun terkapar. Lemas, dingin, galau, sakit. Inilah awal kematian.
Dipejamkannya mata itu, gelap, dirinya mulai merasakan buaian malaikat maut yang mengajaknya untuk tidur. Tidur untuk keabadian.
Jangkrik – jangkrik mulai bernyanyi sendu ketika dia menyadari dirinya yang masih bernyawa, padahal sudah lewat satu jam setelah dia meminum racun itu.
Dia bingung, bagaimana ini?
“Apa memang belum bereaksi” pikirnya.
Akhirnya dia menunggu lagi selama satu jam untuk memastikan apakah racun itu akan bereaksi.
Setelah menunggu ternyata racun itu juga tidak bereaksi juga.
Dia bertambah bingung, jangkrik – jangkrik pun bertambah keras menyanyikan lagu – lagunya, hingga akhirnya dia ditemukan dengan sebuah jawaban yang akan menuntunnya kepada suatu pencarian. Pencarian yang lama dan tidak mudah.
Termenunglah ia akan jawaban itu. Berpikir dan terus berpikir. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menjalani pencarian itu.
Embun pun mulai berjatuhan disaat pagar kesunyian telah ia buka. Pagar kesunyian yang mengantarkannya ke tempat yang lebih terang, walaupun masih akan banyak kegelapan yang akan menyelubungi. Sesaat penyesalan datang berbentuk air mata,
“kenapa harus kuakhiri hidupku tadi?”
“Hey bangun, ayo berangkat!!” tegas matahari yang sedang menyirami bumi dengan sinar kehidupan.
Dimulailah pencarian itu, pencarian seorang M akan enam temannya, yang akan membuatnya menjadi MANUSIA sejati.